Tahanan Kasus Bentrok Abepura Dipaksa Teken “Petikan Putusan Pengadilan Negeri”

Abepura, SOMERPost – DUA Puluh Dua (22) Aktivis Front Pepera PB yang dijadikan kambing hitam dalam kasus Bentrok 16 Maret Abepura dan saat ini sedang mendekam dalam tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Abepura (LP Abe) kini diintimidasi secara brutal oleh pihak Kejaksaan Republik Indonesia (Kejari) dan Pengadilan Negeri Jayapura (PN Jayapura).

Sejak kemarin, Senin (4/12), mereka dipaksa untuk meneken “Petikan Putusan Pengadilan Negeri”, sebuah putusan yang kalau benar-benar diteken, akan membuat status mereka langsung menjadi narapidana tanpa harus melalui proses Banding atau Peninjauan Kembali (PK).

Pemaksaan ini kontan saja ditolak oleh ke-22 tahanan karena, menurut Selfius Bobii (salah satu tahanan), “pertama, kami adalah korban konspirasi, bukan pelaku; kedua, PT Freeport Rio Tinto sebagai Lambang Kejahatan Kemanusiaan di Papua masih terus beroperasi. Kepada SOMERPost, Sekjen Front Pepera itu mengatakan bahwa mereka siap menjalani hukuman sekalipun mereka bukan pelaku, asalkan PT Freeport Rio-Tinto harus ditutup.

Dari sebuah sumber terpercaya, diketahui bahwa pemaksaan ini merupakan resep dari Direskrim Polda Papua, Kombes Polisi Paulus Waterpauw yang takut kalau terjadi proses Banding atau PK terhadap vonis hukuman penjara atas mereka oleh PN Jayapura, karena semua kejahatannya bersama beberapa penjahat berkedok pengayom seperti AKP Yan Piet Reba, AKP Dominggus Rumaropen, AKP Robert Suweni, AKP Gatot Aris Purbaya dan beberapa yang lain akan terungkap di sana.

Langkah ini juga merupakan upaya strategis untuk menyelamatkan Institusi Polda Papua dari citranya yang buruk sebagai bukan pengayom, bukan pelayan dan bukan pelindung Rakyat Papua, tetapi lebih merupakan pengayom, pelayan dan pelindung Warga Non Papua, NKRI dan Korporasi Asing yang sedang bersarang dan berkembangbiak sambil menancapkan cengkeraman kuku Imperialisme Global, Neokolonialisme Indonesia dan Rasisme Indonesia di Tanah Papua.

Sekedar diketahui, jumlah tahanan yang dijadikan kambing hitam dalam kasus ini semuanya ada 23 orang, tetapi 1 orang, Markus Kayame sudah dibebaskan karena ia divonis hukuman penjara 4 Bulan 15 Hari. Sisanya 22 orang masih mendekam di LP Abe. Mereka divonis dengan massa tahanan yang berbeda : 2 orang 6 tahun penjara, 3 orang 15 tahun penjara dan 17 orang 5 tahun penjara.

Bentrok 16 Maret Abepura yang menelan korban tewas 4 Polisi dan 1 TNI (Intel AURI) bermula dari demonstrasi Massa Front Pepera PB Kota Jayapura dan Parlemen Jalanan yang memprotes kejahatan PT Freeport-Rio Tinto seperti terbunuhnya ribuan orang oleh TNI/Polri yang mengamankan Operasi Korporasi tersebut yang diklaim sebagai Obyek Vital Nasional dan tercemarnya ratusan ribu hektar tanah dan lautan oleh limbah beracun.

Kericuhan terjadi ketika Polisi, dengan bantuan provokasi Intelijen TNI/Polri yang tersebar di tengah-tengah massa, salah satunya Serda Agung Prihadi (Intel AURI yang tewas dihakimi massa), membubarkan massa secara paksa dengan semprotan gas air mata dan tembakan peluru tajam maupun karet. Menurut beberapa saksi mata, bentrok tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi karena telah ada kesepakatan bersama setelah negosiasi antara Korlap Aksi dan Polisi yang diwakili oleh AKP Yan Piet Reba dan AKP Dominggus Rumaropen.

“Kesepakatnnya adalah Massa Aksi akan membuka ruas jalan sebelah kanan dari arah Lingkaran Abepura ketika Polisi membebaskan Selfius Bobii, Penius Wakerkwa dan seorang Ibu Rumah Tangga yang baru ditangkap,” jelas seorang saksi mata yang minta namanya tidak ditulis karena takut akan menjadi mangsa Paulus Waterpauw.

“Massa Aksi”, lanjutnya, “menerima hasil negosiasi itu, tetapi rupanya Para Petinggi Polisi punya skenario lain yaitu menciptakan bentrok untuk mengorbankan anak buah mereka agar pangkat mereka bisa naik sebagai imbalan atas pengejaran semua aktivis Front Pepera dan Parlemen Jalanan, juga untuk mendapat proyek dari Freeport”.

“Dan ini sudah terbukti, anda bisa lihat sendiri kan? Rumaropen jadi Kapolsekta Abepura, Taufik Pribadi jadi Kepala SPN, Polisi dapat proyek pengamanan Freeport, Waterpauw sedang disiapkan untuk jadi Kapolda Papua, ini semua diperoleh karena darah dan nyawa anak buah mereka,” tegas saksi mata yang sejak bentrok, pengelihatannya sudah tidak normal lagi karena terkena zat kimia beracun yang dicampur dengan gas air mata.***

Pos ini dipublikasikan di Kabar dari Penjara dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s