Tanggapan Atas Berbagai Komentar di Millis SIMPA

Oleh : Ralsen Papuano

Diskusi dengan berbagai topik di Millis Papua Merdeka seperti Sentral Informasi Rakyat Papua (SIMPA) sebenarnya sangat bersifat membangun dan berdampak positif terhadap perjuangan Pembebasan Nasional Papua jika : (1) Topik diskusi bersifat aktual, teoritis dan terhindar dari penyakit mematikan yaitu faksional, sukuisme, rasisme, takhyul, agamis, irasional, bodoh-dungu-tolol, pornografi dan reaksioner; (2) Alur diskusi diatur oleh Moderator sehingga diskusi menjadi terarah dan tuntas, dalam arti bahwa sebuah topik harus dibahas sampai selesai, minimal menemukan sebuah jalan keluar bagi Gerakan Pembebasan Nasional Papua; (3) Moderator harus mengatur pendaftaran keanggotaan, jangan sampai kecolongan seperti saat ini dimana banyak intelijen Indonesia yang memakai nama samaran bermarga Papua dan secara bebas memantau diskusi para aktivis setiap harinya; (4) Diskusi diarahkan untuk melawan Empat Musuh Utama Rakyat Papua yaitu Imperialisme Global, Neokolonialisme NKRI + Feodalisme Jawa, Militerisme-Fasisme NKRI dan Paternalisme Papua; (5) Millis tidak menjadi media untuk baku-hantam antara sesama Orang Papua atau berbagai jenis komunikasi yang sifatnya memuji diri dan bersifat pribadi; (6) Diskusi menumbuhkan nasionalisme dan ideologi revolusi dalam tataran ide, teoritis untuk dilanjutkan dalam praksis. Nasionalisme disini mencakup Papua, bukan Nasionalisme Suku Biak, Serui, Dani, Amungme, Wandamen, Walak, dll atau Nasionalisme Gunung, Pantai, Lembah, Rawa, Koteka, Cawat, Kain Timor dll, atau Nasionalisme Babi, Gabus Danau, Ikan Ekor Kuning, Cakalang, Tenggiri, Rusa, Papeda, Sagu Bakar, Petatas, Keladi, dll – semua nasionalisme yang bernafaskan suku, kawasan, makanan pokok dan pakaian tradisional – ; (7) Millis tidak menjadi pasar atau tempat pemasangan iklan yang menawarkan produk-produk tertentu; (8) Tidak menjadi alat propaganda musuh dimana pikiran musuh yang tertuang dalam tulisan koran atau media propaganda musuh disebarkan ke millis ini dengan tangan dan biaya kita sendiri.

Sejak Online, Millis Papua Merdeka – terutama SIMPA – sedang menjalankan fungsinya diluar 8 Point yang disebutkan diatas. Media ini telah menjadi alat pecah-belah yang efektif. Ia menumbuhkan, memupuk dan memelihara faksi, sukuisme, rasisme, takhyul, sikap agamis, pikiran yang irasional, kebodohan-kedunguan-ketololan, pornografi dan sikap reaksioner diantara ratusan anggota-nya. Ia menjadi alat bagi setiap Organ Gerakan untuk memperbesar Ego Organ yang ada di Papua dan mengaku berjuang untuk Pembebasan Nasional Papua Barat tanpa Platform dan Strategi-Taktik yang tepat. Kesalahan Moderator adalah membiarkan semua ini terjadi dan bersifat malas tahu dengan cara membenamkan seluruh nafasnya di Areal PT Freeport. Moderator berkeliaran seenaknya di Areal PT Freeport dan membiarkan para anggota Millis memamerkan sikap mereka yang mendekati tingkah-laku binatang di media yang benar-benar telanjang bulat ini. Orang yang menciptakan budaya Online akan tertawa melihat tingkah kami yang baru keluar dari jaman batu, kaget internet dan memanfaatkan media ini untuk melanjutkan perang suku dan budaya peramu tulen dalam bentuk moderen. Media SIMPA, berdasarkan e-mail yang tiap hari masuk dalam Kotak Surat tiap anggota, terbukti telah menjadi media penyebaran iklan dan berbagai produk pornografi oleh para Spammer. Sampai saat ini, kita semua belum melihat SIMPA berfungsi sebagai alat pemersatu. Ia justru mengkotak-kotakan kita kedalam faksi, suku, kawasan dan kelompok pakaian dan makanan tradisional tertentu sehingga memudahkan penjajah untuk memelihara dan mengelola konflik diantara kita.

Dampak perpecahan dari komunikasi tanpa etika yang dibangun melalui SIMPA bisa kita rasakan. Perjuangan jalan di tempat, kekuasaan penjajah semakin kokoh di Papua, tanah kita dicaplok setiap hari, penduduk pemukim membanjiri Papua karena mereka dilahirkan oleh wanita mereka, wanita kita, kapal putih, pesawat terbang, pemekaran wilayah, penerimaan PNS dan kehadiran perusahaan asing-domestik. Sementara kita terus menghibur diri dengan kehadiran IPWP, ILWP, Dukungan Vanuatu, Kelonggaran yang diberikan Pemerintah Papua Nugini, Demo di KBRI London dan Canbera atau penggunaan tombak dan busur-panah ketika melawan TNI-Polri. Tanpa metode revolusi yang jelas, terminologi revolusi terus dipakai oleh berbagai organ gerakan untuk mencari popularitas, padahal jika kita melakukan evaluasi jalannya perjuangan selama 10 tahun terakhir, sama sekali tidak ada capaian yang bisa dikatakan sebagai langkah maju. Suksesnya Pemilu Legislatif dan Pilpres di Papua menunjukkan bahwa kita sedang berjuang tanpa ideologi sehingga ideologi Pancasila dan proses demokrasi penjajah selalu keluar sebagai pemenang dalam pertarungan di sektor ideologis dan setiap mekanisme yang menyertainya. Hal ini membuktikan betapa lemahnya perjuangan kita. Perjuangan kita berjalan tanpa arah, tanpa ideologi, tanpa strategi-taktik dan tanpa teori revolusi.

Kita selalu ‘kopeng tembok’, rambut putih karena menghabiskan usia untuk berjuang secara tradisional, kampungan dan secara sadar lupa memakai otak. Berbagai pengalaman revolusi di negara lain tidak pernah kita ambil intisari-nya. Pemikiran borjuis dan takluk pada kehidupan hedonistis dari budaya orang Eropa telah masuk dalam sum-sum tulan-tulang kita dan kita semakin tidak berdaya berhadapan dengan budaya korup dan selera yang datang dari wilayah musuh. Sikap kita plin-plan, selalu kagum akan kehebatan musuh, belomba-lomba mencari keadilan dalam lembaga hukum yang dibangun penjajah, berusaha mencari jalan untuk merdeka melalui pasal-pasal karet yang diterapkan pemakan manusia Papua. Kita menaruh harapan akan bantuan Barat yang nyata-nyata sarat kepentingan, kita memuja kaum kulit putih ini seperti berhala dengan melupakan fakta bahwa mereka adalah kelompok manusia barbar yang merusak peradaban dan surga kaum pribumi di hampir seluruh planet kita. Budaya Mie Instan dan Makanan Cepat Saji kita pakai untuk menggapai kemerdekaan, akhirnya muncul istilah : “merdeka dulu, yang penting merdeka dulu”, padahal kemerdekaan yang dimaksudkan hanyalah sebatas Merah-Putih turun dan Bintang-Kejora berkibar, Orang Inonesia pulang dan Orang Papua pegang kekuasaan, Papua Merdeka tanpa Islam yang dianggap musuh Yahudi = musuh Papua. Kita lupa bahwa musuh terbesar adalah sistem busuk yang ditanam neokolonialisme, mendapat penguatan dari imperialisme global dan struktur adat kita yang paternal dan, semua dikawal ketat oleh militer Indonesia yang dibiayai berbagai korporasi asing dimana mereka menjadi anjing penjaga modalnya dan selalu berpura-pura demokrat dengan alasan telah melakukan reformasi dalam tubuhnya.

Dengan kondisi Millis SIMPA yang alur diskusi, topik dan manajemen-nya amburadul begini sebenarnya sangat menguntungkan lawan kita. Faktanya, banyak anggota Millis yang sudah muak dengan kondisi ini dan mengambil keputusan untuk keluar dari keanggotaan, ada yang malas tahu dengan kondisi ini, ada juga yang selalu menghapus e-mail bersubyek SIMPA dari Kotak Surat-nya. Kondisi yang patut disesalkan adalah bahwa ternyata banyak anggota yang larut dengan kondisi ini dan terlibat dalam diskusi yang sebenarnya tidak menguntungkan Gerakan Pembebasan Nasional Papua Barat. Mereka main tabrak saja, yang penting membalas e-mail supaya dikatakan pintar atau jago berdebat, apalagi ada apresiasi dari lawan jenis yang mungkin secara kebetulan mengakses internet dari kabin Warnet yang sama. Satu hal yang paling mendasar, konflik yang disulut melalui Millis SIMPA ternyata biasa merupakan konflik pribadi soal perempuan, konflik internal organisasi dan konflik antar organsisasi. Ada juga konflik antar faksi, antar suku dan golongan. Jadi, konflik di alam nyata ternyata diperbesar dan dipertajam melalui dunia maya. Kasus lain, mereka yang tidak kuat secara fisik untuk adu jotos secara terbuka diketahui sebagai pihak yang paling sering memanfaatkan Millis SIMPA untuk menunjukkan eksistensinya dengan menyebarkan tulisan-tulisan kosong yang tidak menguntungkan perjuangan. Reformasi dan iklim kebebasan mengemukakan pendapat sebagaimana dijamin UUD 1945 di Indonesia juga menjadi faktor yang mendorong para anggota untuk mengeluarkan pendapat secara serampangan tanpa analisa yang memadai.

Membiarkan kondisi ini terus berlanjut berarti kita semua sedang terlibat dalam sebuah proses diskusi dan pembangunan kerangka berpikir yang sebenarnya merusak pikiran anggota Millis SIMPA, yang pada akhirnya akan merusak persatuan, mempertajam konflik, menurunkan kualitas perjuangan dan intelektualitas kita. Bagi orang Indonesia yang sedang memantau diskusi kita secara bebas di media ini, Bung Ajikusumo dari Keraton Jogja misalnya, isi kepala kita telah dipetakan secara jelas. Mereka sudah bisa mengukur kemampuan dan kekuatan kita. Mereka sudah bisa membaca konflik internal kita, semua rencana strategis kita dan pada akhirnya, mereka akan melakukan kontra-ideologi, kontra-aksi, kontra-revolusi, kontra-diplomasi dan kontra-kontra lainnya. Jika ini yang terjadi maka kita sebenarnya sedang melakukan sebuah pekerjaan yang hina dan patut mendapat kutukan dalam alam kesadaran kaum tertindas. Usul konkret saja, sobat moderator hendaknya menertibkan Millis ini dengan cara memoderasi setiap e-mail yang masuk. Filter ini dimaksudkan untuk membuang e-mail yang tidak perlu, mengedit e-mail yang gaya penulisannya sulit dipahami atau berpotensi untuk disalahpahami oleh member karena tidak gramatikal dan menerbitkan langsung e-mail yang berbobot. E-Mail yang berbobot, bagi saya adalah e-mail yang isinya informatif, edukatif, revolusioner, nasionalis, bahkan internasionalis. Pokoknya diusahakan supaya Millis SIMPA bisa berfungsi seperti 8 point yang saya sebutkan diatas. Hanya dengan cara ini, setiap topik diskusi bisa terkontrol dan pembangunan sebuah kerangka berpikir yang baik bisa dibangun melalui media ini. Akhir kata, mohon dimaafkan apabila pendapat pribadi ini bertentangan dengan komitmen rekan-rekan sekalian untuk terus memanfaatkan media ini sebagai saluran gratis untuk menyulut konflik diantara kita sendiri. Semoga!

Pos ini dipublikasikan di Kritik & Otokritik dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s