Empat Anggota TNI Penyiksa Warga Sipil Papua Disidang

Jayapura, SOMERPost : Empat anggota Tentara Nasional Indonesia yang menyiksa warga sipil secara kejam di Kampung Gurage, Distrik Tingginambut, Kab. Puncak Jaya, Papua, akhirnya disidangkan di Mahkamah Militer III-9 Jayapura, Jumat (5/11) kemarin secara terbuka tetapi dengan pengawalan ekstra ketat. Semua barang-barang bawaan pengunjung, termasuk wartawan, diperiksa.

Sidang dipimpin langsung Majelis Hakim, Kolonel Laut (KH) Adnan Madjid,SH,MH,  didampingi anggota Majelis Hakim, Mayor CKH Sudarsono, Mayor Sus Jacky Ibrahim,SH dan Oditur Militer, Letkol CHK Edy Imran,SH, Mayor CHK Sumantri,SH serta Panitera, Kapten CHK Zwastika M,SH, Kapten CHK M. Saleh,  SH.

Keempat terdakwa yang disidangkan masing-masing Praka Sahminan Husein Lubis (Anggota Pos Gurage), Prada Dwi Purwanto (Anggota Pos Gurage), Prada Joko Sulistiono (Anggota Pos Kalome) dan Perwira Letnan Dua Cosmos (Danpos Kalome). Mereka berasal dari Kesatuan 753 AVT/Nabire, Kodam XVII/Cenderawasih.

Sebanyak 3 saksi, masing-masing Lettu Inf. Sudarmin (Danpos Gurage), Letda Inf Cosmos (Danpos Kalome) dan Prada Ishak (Anggota Pos Kalome) dimintai keterangan oleh Majelis Hakim.

Saksi Prada Ishak mengatakan, sebelum terdakwa melakukan penganiayaan terhadap warga Papua tersebut , mereka melakukan patroli bersama 45 prajurit, sejak tanggal 17 Maret 2010 lalu sekitar pukul 23.00 Wit untuk melakukan kebersihan dari Illu menuju ke Gurage.

Dalam perjalanan menuju ke Gurage, mereka mendapat informasi dari rekan mereka yang menyamar sebagai warga .  Ia menyampaikan bahwa ada warga yang menggunakan 2 senjata jenis AK dan Moser yang diduga anggota OPM, sehingga dengan informasi tersebut mereka langsung melakukan pembersihan serta penyergapan di salah satu rumah milik Totoran Wonda.

Menurut Ishak, “Saat dilakukan penyergapan terdakwa masuk kedalam rumah tersebut, sementara saya berada diluar rumah yang berjarak sekitar 15 meter. Saat itu saya melihat para terdakwa melakukan penganiayaan terhadap 3 warga dengan cara menendang di bagian punggung serta memukul pakai helm”.

Bahkan, ketika melakukan penganiayaan, saksi Ishak disuruh oleh Letda Cosmos untuk mengambil gambar rekaman video sebagai dokumentasi kepada atasan untuk promosi kenaikan pangkat.

“Siap saya di suruh rekam atas penugasan dari komandan tim, Letnan  dua Ifantri Cosmos, atasan memerintahkan saya mengambil rekaman tersebut sekitar 15 menit sebagai laporan kepada atasan komandan nanti,” ujarnya Ishak.

Menuduh warga sipil tak berdosa sebagai anggota OPM kemudian menyiksa mereka secara bebas dan mengabadikan adegan penyiksaan tersebut dengan kamera untuk dilaporkan kepada atasan merupakan cara yang banyak dipakai oleh TNI di seluruh Papua sebagai cara untuk memperoleh kenaikan pangkat.

Ishak juga mengakui, tak hanya gambaran mengenai kekerasan, rekaman lain yakni pasca  penyergapan yang dilakukan semuanya sudah direkam.   Menurut dia, ketika selesai mengambil gambar, HP milik Letda Cosmos, langsung diserahkan. “Siap, saya setelah ambil gambar langsung serahkan ke pemilik HP yakni Letda Infantri Cosmos”.

Menurut Ishak, hasil dari rekaman itu langsung diserahkan kepada Letda Cosmos dan sampai saat ini tidak lagi mendapat informasi apakah rekaman itu sudah diserahkan ke atasan mereka atau tidak.

Bahkan, setelah melakukan penganiayaan oleh para terdakwa, saksi Ishak menuturkan bahwa tidak ada penyelesaian secara adat terhadap korban oleh terdakwa sebagaimana berlaku menurut adat setempat.

Sementara itu, saksi kedua, Letda Cosmos saat diperiksa mengaku tindak kekerasan dilakukan karena meski dilakukan pendekatan persuasif, masyarakat tetap tak mau menyebutkan keberadaan senjata tersebut. Ia juga mengakui, setelah menerima gambar tersebut, gambar  tidak dicek kembali.

“Siap, saya belum cek gambarnya, besok harinya HP saya gangguan jadi saya masukan ke service HP,” ungkapnya.

Belum diketahui pasti, mengapa video tersebut bisa beredar di internet dan menjadi topik hangat di media dalam dan luar negeri. Beberapa sumber menyebutkan, sesorang telah membelinya dari Letda Cosmos dengan harga ratusan juta rupiah.

Letkol Edy Imran, SH, Oditur Militer Perwakilan Pusat yang menangani kasus ini menegaskan, saksi Prada Ishak dengan sengaja merusak citra TNI di mata nasional dan internasional maka saksi Ishak  harus dijadikan terdakwa karena dialah penyebab utama.

Menurut Edy, seandainya tak ada rekaman video itu maka tak mungkin ada sebaran video yang merusak citra TNI.

“Menurut saya dia ini dengan sengaja mau merusak citra TNI di mata nasional dan internasional, dia ini yang biang keladinya, harusnya dia juga terdakwa bersama komandannya,” tegas Edy.

Dalam persidangan juga ditunjukkan barang bukti berupa video berdurasi 15 menit dalam sebuah kepingan CD, Helm, Berkas Surat Perintah dan 3 pasang. Sidang akan dilanjutkan Senin (8/11) mendatang dengan agenda pemeriksaan terhadap terdakwa.

Video yang menjadi bahan persidangan hanyalah video penyiksaan sekolompok warga. Dalam video tersebut, terdengar kata-kata seorang penyiksa dengan jelas, “…menjalankan perintah negara…jelas…saya disini berdasarkan tugas… tugas negara…”

Sementara video penyiksaan terhadap dua orang warga secara sadis dengan menelanjangi salah satu warga bernama Tunaliwor Kiwo dan membakar kemaluannya agar dia mengaku menyimpan senjata belum diselidiki.

Banyak kalangan menilai, sidang terbuka yang baru terjadi itu merupakan strategi Indonesia melalui TNI untuk membersihkan dirinya dari berbagai kasus pelanggaran HAM di Papua dan upaya pemulihan nama baik mereka menjelang kedatangan Presiden AS Barack Hussein Obama ke Indonesia pekan depan.***

Pos ini dipublikasikan di Aksi TNI-Polri dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Empat Anggota TNI Penyiksa Warga Sipil Papua Disidang

  1. Namuk berkata:

    Penyiksaan terhadap warga sipil tidak terlepas dari : Deadline waktu yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia kepada TPN-OPM untuk menyerah.

    Deadline waktu harus ditelusuri, siapa yang memberikan usul deadline, siapa yang memberika perintah operasi, dan selanjutnya.

    Kasihan kan, yang berpangkat kecil dikorbankan, sementara yg pangkat besar (pemberi perintah operasi dan deadline waktu) lolos seenaknya…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s