Dani Kogoya Bukan Pelaku Penembakan di Nafri

Jayapura, SOMERPost : Pengejaran TNI-Polri terhadap Dani Kogoya, petani asal Wamena yang dihakimi media massa lokal maupun nasional sebagai pelaku penembekaan misterius di Nafri, Minggu (28/11) lalu sangatlah berlebihan. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu anggota kerabatnya kepada SOMERPost beberapa menit lalu.

Dani disebut sebagi petani biasa yang sedang mencari nafkah untuk membesarkan anak-anaknya setelah istrinya meninggal  dunia beberapa bulan lalu.

“Abang Dani bukan pelaku penembakan, dia sama sekali tidak tahu apa-apa dengan kejadian ini, dia cuma petani biasa yang sedang berusaha membesarkan anaknya seorang diri karena istrinya meninggal dunia beberapa bulan lalu,” jelasnya  kepada SOMERPost.

Informasi yang diperoleh blogsite ini, Dani yang mengetahui dirinya dijadikan kambing hitam dalam kasus ini sedang mengamankan dirinya di sebuah tempat yang aman. SOMERPost berusaha melakukan kontak tetapi HP-nya tidak aktif.

Penembakan membabi-buta di Nafri mengakibatkan 1 orang tewas, sedangkan 5 lainnya mengalami luka-luka. Aparat TNI-Polri menanggapi penembakan terhadap warga non Papua itu dengan menggerebek rumah Dani Kogoya di Tanah Hitam Abepura dan membunuh seorang Papua bernama Miron Wetipo, Jumat (3/12) lalu.

Miron, tahanan yang sedang kabur dari LP Abepura dan kebetulan melintas di dekat rumah Dani Kogoya yang sedang digerebek, ditembak mati tanpa proses apa-apa. Dia dituduh sebagai anggota OPM yang terlibat penyerangan Nafri.

Beberapa kalangan menilai, penembakan terhadap Miron Wetipo lebih didasari oleh sentimen rasisme ketimbang penegakan hukum, keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Penyerang di Nafri membunuh orang non Papua kemudian TNI-Polri yang tidak mampu menemukan pelaku seenaknya menuduh orang Papua sebagai pelaku penyerangan dan dengan demikian mereka membunuh Miron Wetipo hanya karena dia orang Papua, ini jelas pembalasan rasisme,” jelas John, seorang pemerhati masalah-masalah sosial di Abepura.

Pembunuhan terhadap Miron kemudian memicu bentrok antara para narapidana dengan petugas   LP Abepura yang berujung pada pemindahan beberapa narapidana ke tahanan Polda Papua. Mereka yang dipindahkan diantaranya Buchtar Tabuni dan Filep Karma karena keduanya dianggap sebagai provokator

Dalam penggerebekan di rumah Dani Kogoya, TNI-Polri menangkap Yus Jikwa (23), Itok Tabuni (23), Elmin Jikwa (27), Lani Boma (24), Maluk Tabuni (21), Nalius Jikwa (26), Matius Siep (21) dan Kagoyanak Jikwa (25).

8 pemuda itu ditangkap saat sedang berkumpul di dalam rumah Dani Kogoya. Mereka kemudian dituduh sebagai pelaku penyerangan Nafri dan untuk menguatkan tuduhan tersebut, mereka dituduh menyimpan sejumlah amunisi, senjata tajam dan dokumen Papua Merdeka.

Tetapi, saksi mata yang minta namanya dirahasiakan menyebutkan, amunisi dan dokumen Papua Merdeka berupa rencana penyerangan susulan di Buper Waena itu diselipkan oleh seorang anggota Brimob dekat bangunan gereja di samping rumah Dani Kogoya kemudian mereka berpura-pura menemukannya.

Penggerebekan dan penangkapan ke-8 pemuda tidak bersalah bersama sejumlah barang bukti “titipan” Brimob itu sempat menjadi pemberitaan media massa yang cukup hangat, dimana beberapa media massa nasional langsung menuduh mereka sebagai anggota OPM dan teribat penyerangan Nafri.

Ke-8 pemuda yang ditahan akhirnya dibebaskan sehari kemudian, Sabtu (4/12) karena tekanan beberapa LSM dan keberhasilan Polda Papua dalam menetapkan Dani Kogoya sebagai kambing hitam penyerangan Nafri berdasarkan dokumen palsu yang mereka buat sendiri.

Dengan penetapan Dani Kogoya sebagai kambing hitam dalam kasus ini, maka pelaku penembakan yang sebenarnya dan motif dibalik aksi mematikan itu semakin sulit terungkap.

Pembunuhan  bermotif rasis terhadap Miron Wetipo pun tidak diusut tuntas karena kuatnya opini media massa yang gencar menyebutkan Dani Kogoya sebagai pelaku penyerangan dan upaya TNI-Polri untuk “melindungi masyarakat” dari ancaman para penyerang.***

Pos ini dipublikasikan di Rasionalisasi dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s