Yusuf Wally : Pasukan Non Organik Meresahkan Masyarakat Keerom

Arso, SOMERPost : Keberadaan pasukan non organik yang kehadirannya di Keerom sangat meresahkan warga dengan aksi-aksi kriminalnya ternyata mendapat perhatian Bupati Kabupaten Keerom, Yusuf Wally. Senin (16/07) kemarin, Wally meminta pasukan non organik yang bertugas di Keerom ditarik. “Harus dilakukan pengontrolan terhadap pasukan non organik, bila perlu ditarik undur karena kehadiran mereka dirasa meresahkan masyarakat,” kata Bupati Wally.

Pernyataan keras ini terpaksa dikeluarkan Bupati Wally menyikapi pembunuhan terhadap Kepala Kampung Saweyatami, Johanes Yanufrom (30) oleh pasukan Yonif 431/SSP Kostrad pada 1 Juli lalu dan operasi penyisiran terhadap kampung-kampung berpenduduk asli yang masih terus dilakukan menggunakan dana stabilitas dari Pemkab Keerom.

Bupati Wally juga meminta kepada pasukan non organik untuk tidak mengadudomba masyarakat. “Jangan sampai ada laporan yang tidak benar yang berujung pada konflik dan operasi militer yang mengorbankan masyarakat,” tandas Bupati Wally. Dia juga meminta warganya yang mengungsi karena dikejar pasukan TNI-Polri supaya segera kembali ke kampung masing-masing.

Tanggal 1 Juli 2012 lalu, bertepatan dengan HUT OPM Ke-41, Pasukan TPN-OPM Pimpinan Lambert Pekikir melakukan penghadangan terhadap konvoi Danyon 431/SSP Kostrad Letkol (Inf) Indarto. Terjadi baku tembak sekitar 30 menit dan Danyon 431/SSP Kostrad Letkol (Inf) Indarto lengkap dengan pasukannya kabur meninggalkan lokasi baku tembak.

Diluar lokasi baku tembak dalam jarak sekitar 150-200 meter, TNI kemudian menembak mati Kepala Kampung Saweyatami, Johanes Yanufrom (30) yang sedang mengendarai sepeda motor. Dia ditembak di pelipis kiri dan lambung kiri dari jarak yang sangat dekat sehingga langsung meninggal dunia di tempat kejadian.

Danyon 431 Kostrad Letkol (Inf) Indarto kemudian meminta bantuan TNI di Pos Tribuana Kampung Wembi dan melakukan penyisiran membabi-buta. Masyarakat kampung Saweyatami, Wembi dan Bagia yang ketakutan akibat penyisiran membabi-buta ini langsung kabur mengungsi ke hutan.

“Masyarakat lari sembunyi ke hutan karena takut dijadikan sasaran kejahatan TNI, apalagi kampung-kampung ini semua penduduknya orang asli Keerom, pasti tidak ada ampun,” kata Mery Mekawa, warga setempat.

Pimpinan TNI dan Polri juga dikabarkan telah memeras Pemkab Keerom sejak akhir bulan Juni lalu ketika beredar kabar tentang rencana perayaan HUT OPM ke-41 oleh TPN-OPM Pimpinan Lambert Pekikir. Dana stabilitas Kabupaten Keerom yang jumlahnya milyaran rupiah telah dikuras untuk membiayai operasi militer dan penyisiran khusus di kampung-kampung berpenduduk asli Keerom.

Pimpinan TNI-Polri kemudian menggunakan berbagai media massa berhaluan rasis di Papua dan Indonesia secara membabi-buta menuduh pasukan Lambert Pekikir sebagai pelaku pembunuhan terhadap Yanufrom dengan maksud mengkriminalisasi perjuangan Papua Merdeka dan mengamankan serta menyembunyikan tindakan kriminal petinggi TNI-Polri terhadap para prajurit dan masyarakat.***

Pos ini dipublikasikan di Lawan Militerisme dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s